Jumat, 15 Maret 2013

ASFIKSIA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Angka kematian bayi ( Infrant Mortality Rate) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, karena dapat menggambarkan kesehatan penduduk secara umum.  Angka kematian bayi tersebut dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun (BPS). Angka Kematian Bayi (AKB) di negara-negara berkembang

Menurut Laporan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) bahwa setiap tahunnya, kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini kemudian meninggal. Di Indonesia, dari seluruh kematian bayi, sebanyak 57% meninggal pada masa BBL (usia dibawah 1 bulan). Setiap 6 menit terdapat satu BBL yang meninggal. (JNPK-KR 2008 hal.143). Pada tahun 2011, jumlah angka kematian bayi baru lahir (neonatal) di negara-negara ASEAN di Indonesia mencapai 31 per 1000 kelahiran hidup. Angka itu 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan malaysia. Juga, 1,2 kali lebih tinggi dibangdingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand. Karena itu masalah ini harus menjadi perhatian serius.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, mengestimasikan AKB di Indonesia dalam periode 5 tahun terakhir, yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1.000  kelahiran hidup. Banyak faktor yang mempengaruhi angka kematian tersebut, yaitu salah satunya asfiksia sebesar 37% yang merupakan penyebab kedua kematian bayi baru lahir  (Depkes.RI, 2008). Sementara target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 adalah 32 / 1. 000 KH.

Usaha pemerintah indonesia untuk menanggulangi dalam mengurangi angka kematian bayi (AKB) adalah menciptakan pelayanan kesehatan dasar, yaitu pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan antenatal, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan koompetensi kebidanan, deteksi resiko, rujukan kasus resti dan penanganan komplikasi, penanganan neonatus resti / komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR, dan sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dokter dan bidan di polindes, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit. Dimana tenaga kesehatan mampu untuk menjalankan manajemen asuhan kebidanan sesuai dengan pelayanan dan masalah yang terjadi (upaya kesehatan Depkes RI).

 Adapun penyebab kematian bayi, yaitu : bayi berat lahir rendah, asfiksia, trauma jalan lahir, tetanus neonatorum , infeksi lain dan kelainan kongenital. Banyak faktor yang mempengaruhi angka kematian tersebut diantaranya asfiksia 27 % yang merupakan penyebab ke dua kematian bayi baru lahir setelah bayi berat lahir rendah (Depkes RI 2008).
Angka kematian bayi merupakan angka jumlah kematian perinatal dikalikan 1000 dan kemudian dibagi dengan jumlah bayi lahir hidup dan lahir mati pada tahun yang sama. Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir(Hutchinson,1967). Keadaan ini disertai dengan hipoksia,hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstra uterine(Gabriel Duc,1971). Penilaian statistik dan pengalaman kilinis patologi anatomis menunjukkan bahwa keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Hal ini dibuktikan oleh Drage dan Bernedes (1966) yang mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi hipoksia berat pada saat bayi lahir akan memperlihatkan angka kematian yang tinggi. Adapun penyebab dari asfiksia neonatorum adalah faktor ibu, faktor plasenta, faktor fetus dan faktor neonatus.
Berdasarkan data profil kesehatan provinsi bengkulu tahun 2011 dari sebanyak 33.343 kelahiran hidup di provinsi Bengkulu terdapat 205 bayi lahir mati dan jumlah kematian bayi sebesar 319. Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup di provinsi bengkulu pada empat tahun terakhir mengalami naik turun dimana pada tahun 2007, mencapai 10,45 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2008 menurun menjadi 7,3 per 1.000 kelahiran hidup, tahun 2009 meningkat menjadi 10,22 per 1.000 kelahiran hidup, tahun 2010 turun menjadi 5,2 per 1000 kelahiran hidup, tahun  2011 kembali meningkat 9,6 per 1000 kelahiran hidup.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan angka kematian bayi masih cukup tinggi pada tahun 2009 sebesar 10,22 per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian bayi tersebut mengalami penurunan pada tahun 2010 menjadi sebesar 5,2 per seribu kelahiran hidup, akan tetapi terjadi lagi peningkatan kematian bayi pada tahun 2011 sebesar 10.8 per seribu kelahiran hidup.

Data bayi baru lahir dengan asfiksia di ruang perinatologi RSUD Dr.M.Yunus bengkulu....



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka dapat diambil perumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimana penatalaksanaan asuhan kebidanan yang diberikan pada bayi baru lahir dengan asfiksia di ruang Perinatologi RSUD dr.M.Yunus Bengkulu, dengan menggunakan manajemen kebidanan menurut SOAP?”dan bisa melihat penerapan asuhan kebidan bayi baru lahir dengan asfiksia antara teori dan praktek.

C. Manfaat Studi Kasus
1.    Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan yang dapat menambah wawasan khususnya mengenai penatalaksanaan kasus bayi baru lahir dengan asfiksia.
2.    Manfaat praktis
a.       Bagi penulis
Di harapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dan menggali wawasan serta mampu menerapkan ilmu yang telah didapatkan tentang penatalaksanaan bayi baru lahir dengan asfiksia  agar dapat merencanakan dan melakukan evaluasi permasalahan dan pemecahan masalah terutama yang berkaitan dengan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksia.


b.      Bagi profesi
Menambah keterampilan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan neonatal serta motivasi tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang cara pencegahan dan komplikasi neonatal.
c.       Bagi instansi
1.      Bagi RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu
Diharapkan berguna sebagai bahan perencanaan dan evaluasi permasalahan yang ada khususnya permasalahan bayi baru lahir dengan asfiksia.
2.      Bagi institusi pendidikan
Diharapkan berguna sebagai bahan masukan bagi institusi, khususnya Politeknik Kesehatan Provinsi Bengkulu Jurusan Kebidanan dalam meningkatkan wawasan mahasiswa mengenai asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksia.

D.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.    Tujuan Umum
Untuk dapat melaksanakan dan meningkatkan kemampuan penulis dalam penatalaksanaan “Asuhan kebidanan pada by.A dengan ASFIKSIA sesuai dengan teori manajemen kebidanan yang diaplikasikan dalam asuhan kebidanan dengan metode SOAP”.
2.    Tujuan Khusus
a.       Penulis mampu :
1.      Penulis mampu mengkaji data subjektif pasien bayi baru lahir dengan asfiksia.
2.      Penulis mampu mengkaji data objektif pada pasien bayi baru lahir dengan asfiksia
3.      Penulis mampu menegakkan diagnosa bayi baru lahir dengan asfiksia
4.      Penulis mampu melakukan tindakan penatalaksanaan bayi baru lahir dengan asfiksia.
5.      Penulis mampu mengevaluasi tindakan yang sudah diberikan
b.      Penulis mampu menganalisa kesenjangan yang terjadi antara konsep dasar teori dengan aplikasi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan Asfiksia.
c.       Penulis mampu mencari alternatif pemecahan masalah jika terdapat kesenjangan pada asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksia.


E. Keaslian Studi Kasus
Studi kasus tentang bayi baru lahir dengan Asfiksia ini pernah dilakukan oleh :
Sinta Ayu (2012) dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada By. Dengan Asfiksia Di Ruang Perinatologi RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu Tahun 2012”.
Hasil studi kasus : informconsen, melakukan isap lendir, menjaga kehangatan, merangsang rangsang taktil, bayi tidak bernafas dilanjutkan melakukan resusitasi memberi O2 2 liter, melanjut observasi ttv selama 2 jam, berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian theraphy : Amoxsan 3 x 0,3 cc dan PASI 20 cc/jam melakukan konseling tentang asfiksia pada keluarga.
Perbedaan studi kasus diatas adalah subjek, waktu pelaksanaan studi kasus.

F.  Sistematika Penulisan
Studi kasus ini terdiri dari 5 bab dan disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I                  PENDAHULUAN
Yang terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, manfaat studi kasus, tujuan studi kasus, keaslian studi kasus, sistematika penulisan.


BAB II                TINJAUAN TEORI
Dalam bab ini berisi tentang teori medis bayi baru lahir, Asfiksia, teori asuhan kebidanan yang meliputi pengertian, manajemen kebidanan SOAP, data perkembangan.
BAB III               METODOLOGI
Dalam bab ini berisi tentang jenis studi kasus, lokasi studi kasus, subjek studi kasus, waktu studi kasus, instrument studi kasus, teknik pengumpulan data, dan alat-alat yang dibutuhkan.
BAB IV               TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan laporan kasus dengan menggunakan manajemen kebidanan dengan metode SOAP.
BAB V                PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran. Kesimpulan dirumuskan untuk menjawab tujuan penulis dan merupakan inti dari pembahasan penanganan bayi baru lahir dengan Asfiksia.Saran merupakan alternative pemecahan masalah dan anggapan kesimpulan yang berupa kesenjangan, pemecahan masalah hendaknya bersifat realitas operasional yang artinya saran itu dapat dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN        



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar